Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Thursday, August 1, 2013

Sujud Lebih Lama

sujudSujud Lebih Lama

bolehkah aku sujud
sedikit lebih lama
untuk menyadari betapa
rendahnya aku
dan sungguh tinggiNya Engkau

bolehkah aku sujud
sedikit lebih lama
untuk memahami betapa
kecilnya aku
dan sungguh besarNya Engkau

bolehkah aku sujud
sedikit lebih lama
untuk meleluluhlantakkan
segala kesombonganku

bolehkah aku sujud
sedikit lebih lama
karena aku tak berdaya
dan Engkau Maha Kuasa

bolehkah aku sujud
sedikit lebih lama
itu pun akan sangat kurang
jika dibanding dosa-dosaku

bolehkah aku sujud
sedikit lebih lama
untuk menetralisir aliran darahku
dari hegemoni syaithoniyah

betapapun lamanya
aku bersujud padaMu
tak akan dapat melunasi
semua nikmat yang telah
Engkau berikan

betapapun cepatnya
aku bersujud padaMu
Engkau masih memberikan
segala nikmatMu

Semarang, 28 Ramadan 1425 H | 11 November 2004

Sunday, October 28, 2012

Aku Juga Bisa Rindu

aku juga bisa rindu | pour ma cherie ma femme

percayalah bahwa aku selalu bersamamu
resapkanlah vibrasi dari hatiku
cinta bukanlah tentang ini dan itu
biarlah Tuhan, aku dan kamu saling merindu

Saturday, September 29, 2012

Kepada Hanya

kepada masa lalu
aku tak menyesal
hanya saja sedikit malu

kepada masa depan
banyak yang ku harapkan
hanya saja aku tak tahu kenyataan

Monday, September 24, 2012

Sembilu

Beribu rindu meratus di qalbu

Beratus gugus menyuluh di kudus

Berpuluh peluh menyatu dibasuh

Satuan awan menggumpal di belawan

 

Separang ucap merayap senyap

Pusara pikir mengukir pasir

Sembilu laku menyayat pilu

Belati basi meradang sepi

Tuesday, November 15, 2011

Guruku kini

Guruku kini
Adalah juga guruku tempo hari
Sekian lama mengabdi
Melalui zaman yang bertransisi

Guruku kini
Mendidik di zaman informasi
Menghadapi anak didikan tivi
Yang tak ada pakaian sopan dan rapi
Yang dilihat hanyalah rok mini

Guruku kini
Betapa tugasmu berat sekali
Mendidik anak bangsa ini
Generasi penerus negeri

Guruku kini
Datang di sekolah pagi
Tidak ada yang menyalami
Tak ada lagi
yang membawakan tas dengan senang hati
dahulu memang berbeda dengan kini

Guruku kini
Betapa engkau begitu sabar
Ketika engkau mengajar
Tidak ada yang memperhatikan
Mereka asyik, SMS-an, facebook, atau twitteran

Guruku kini,
Betapa sering engkau bercerita sejarah Nabi
Tapi muridmu kini tak kenal Umar atau Ali
Areil, Luna Maya, atau Cut Tari
Pasti lebih dikenali

Guruku kini,
Betapa tugasmu berat sekali
Mendidik anak bangsa ini
Generasi penerus negeri

Guruku kini,
Betapa senangnya engkau bernyanyi
Mengajari lagu kebangsaan negeri ini
Namun “Alamat Palsu” lebih disukai
Dan “Hamil duluan” malah diteladani

Guruku kini,
Betapa engkau bersedih hati
Keluarnya dari sekolah seorang siswi
Bukan karena prestasi
Tapi karena dihamili

Guruku kini,
Betapa hatimu sungguh hampa
Melihat seorang siswa
Keluar karena narkoba

Guruku kini,
Betapa tugasmu berat sekali
Mendidik anak bangsa ini
Generasi penerus negeri

Guruku kini,
Betapa muridmu menjengkelkan
Engkau tak boleh memberi pukulan
Nanti akan dilaporkan
Dianggap kejam dan melanggar HAM

Guruku kini,
Betapapun kau mengajar tanpa kekerasan
Kenapa begitu banyak pelajar tawuran
Lalu siapa yang mencontohkan?

Guruku kini,
Sungguh engkau di persimpangan
Bahagia karena banyak lulusan
Sedih karena tidak lulus beneran

Guruku kini,
Betapa tugasmu berat sekali
Mendidik anak bangsa ini
Generasi penerus negeri

Guruku kini,
Memang sudah tidak seperti Oemar Bakri
Karena sudah ada sertifikasi
Namun tugasmu sungguh berat sekali

Demak, 15-11-2011

[soundcloud url="http://api.soundcloud.com/tracks/91539644" params="color=ff6600&auto_play=true&show_artwork=false&show_playcount=true&show_comments=true" width=" 100%" height="81" iframe="false" /]

Friday, April 23, 2010

Air Hangat Penyejuk Jiwa

Pada suatu hari sebelum berangkat bekerja seorang suami berpesan kepada istrinya

“Ma, nanti sore pas aku pulang kerja tolong disiapkan air hangat ya.” Sesegera setelah itu suami tersebut mencium kening istrinya dan kemudian berpamitan untuk berangkat bekerja.

Istrinya tersebut hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Walaupun sebenarnya sebelum mempunyai anak dia adalah seorang pegawai negeri di kantor pajak. Namun, semenjak dia melahirkan seorang anak yang kini telah berusia 5 tahun dia memutuskan untuk berhenti bekerja. Alasannya, selain karena dia ingin fokus mengurusi anaknya juga karena dia merasa kurang nyaman dengan godaan yang ada di tempatnya bekerja.

Saturday, December 12, 2009

Uniomistika

aku keluar
tanpa kaki beralaskan
lihat langit luas
langsung tanpa batas

aku merasa seperti
koridor sempit
yang menghubungkan
antara wc dan ruang makan