Showing posts with label essay. Show all posts
Showing posts with label essay. Show all posts

Tuesday, August 20, 2013

Psikologi Kentut

dalam ilmu psikologi ada beberapa cabang antara lain psikologi pendidikan, psikologi industri, psikologi industri, psikologi komunikasi, bahkan psikologi agama. selain contoh cabang ilmu psikologi diatas tentunya masih banyak lagi yang lainnya. di dalam desain kita juga mengenal psikologi warna. namun, kali ini saya tidak akan membahas hal yang serius...... kentut

hal yang sangat dekat dengan kita.... bahkan ketika seseorang tidak dapat kentut pun itu menjadi sebuah masalah yang cukup besar. Bahkan ada profesi pendeteksi penyakit melalui bau kentut yang bertarif puluhan ribu dollar. berikut psikologi seseorang berdasarkan keadaan ketika dia kentut.

  1. orang terbuka, ketika kentut lepas dan suaranya keras....

  2. orang pendiam, ketika kentut tidak bersuara..... tapi sering bau juga...

  3. orang dermawan, ketika kentut disebar-sebarin ke temannya

  4. orang pelit, ketika kentut dicium-cium sendiri sampai baunya hilang

  5. orang jujur, ketika kentut ngaku "iya, aku kok yang kentut, cuma dikit."

  6. orang pemfitnah, ketika kentut langsung nuduh orang lain.

  7. orang innocent, ketika kentut sok imut bilang, "ini bau kentut siapa ya?"

  8. orang koruptor, ketika ada orang yang kentut baunya diambil diciumi sendiri.

  9. orang kolektor, setiap ada yang kentut dikumpulin dalam botol.

  10. orang musisi, setiap ada kentut dianalisa nada / iramanya.

  11. orang intelejen, ketika kentut tak bersuara, tak berbau, tapi tiba-tiba semua orang pingsan.

  12. orang kurang kerjaan, masalah kentut dipikirin...... :)

Friday, February 22, 2013

Khotbah Hati, Khotbah tanpa materi

Setiap hari jumat siang seperti sekarang ini sering kali saya membaca status teman-teman di facebook yang membahas tentang khotbah jum’at atau bahkan mengkritik khotibnya. Seolah-olah kita ini kurang puas terhadap khotbahnya atau justru bersilang pendapat dengan khotibnya. Hal ini wajar adanya, saya sendiri juga mengalaminya. Setiap hari jumat saya sholat di sebuah masjid di desa. Bahasa pengantar yang digunakan oleh khotib yaitu bahasa jawa kromo (halus). Selain kendala bahasa, dalam hal penyampaian juga kurang jelas karena rata-rata khotib berusia senja. Alhasil, saya dan juga beberapa orang lain menganggap bahwa khotbah hanya formalitas saja. Tidak perlu paham pun tidak menjadi beban. Untung masih mau mendengarkan. Kalau mau tidur ya silahkan asal tidak membatalkan wudhu dan tidak membaca doa mau tidur apalagi doa masuk khamam.


Namun, ada hal yang berbeda saya rasakan di sholat jumat hari ini. Saya sudah menyiapkan diri untuk benar-benar khusyu’ mendengarkan khotib yang sedang berkhotbah dengan menggunakan bahasa jawa kromo yang saya sendiri tidak bisa memahami 100%.  Khotib yang sudah cukup usia tersebut seperti biasa berkhotbah dengan membaca sebuah kitab berwarna kuning yang kelihatan sudah tidak baru lagi. Namun, semakin saya konsentrasi semakin saya jengkel karena tidak memahami maksud khotbahnya. Tetapi Allah menunjukkan hidayah atau sebuah ilmu ma’rifat kepada saya. Karena saya tidak begitu memahami khotbahnya maka yang saya perhatikan bukan lagi materinya melainkan wajah khotib tersebut. Saya melihat cahaya keikhlasan dibalik wajahnya yang sudah banyak gurat-guratan tersebut.


Ternyata memang ada satu hal yang selama ini kita lupakan. Selama ini kita sering mengkritik khotib yang tidak jelas khtobah tidak menarik materinya dan seolah-olah kita lebih bisa dan lebih bagus jika kita yang berkhotbah. Kita merasa lebih pintar. Tetapi satu hal yang kita lupa bahwa apakah kita bisa menjamin bahwa kita lebih ikhlas dari siapapun. Seringkali kita berbicara di depan umum agar dianggap pintar, berpendidikan. Dengan menggunakan bahasa-bahasa ilmiah yang sebenarnya hanya sebagian orang yang faham. Kita merasa lebih baik dari orang lain. Merasa sudah sarjana, S2, atau bahkan professor sekalipun. Yang dengannya kita merasa mempunyai otoritas berbicara di depan publik. Namun, satu hal yang kita lupa apakah kita ini berani menjamin bahwa kita paling ikhlas. Seringkali kita sakit hati jika kata-kata tidak didengar atau disepelekan. Bahkan kita marah jika ada orang yang tidak sependapat dengan kita.


Kita bisa amati dan jujur pada diri sendiri. Ketika kita melihat dan mendengar seorang politikus, pejabat, penceramah yang ternama sedang berpidato begitu memukau audiensnya. Namun ketersimaan kita hanya ada pada waktu itu saja. Di lain waktu kita sudah lupa. Namun jika kita bandingkan dengan seorang guru ngaji yang sederhana di desa. Yang kata-katanya begitu datar dan bahkan terkesan monoton. Tetapi mampu membekas dalam jangka waktu yang cukup lama di hati pendengarnya.


Selain keikhlasan, ada hal lain yang bisa kita ambil pelajaran. Yaitu tentang ketawadhu’an. Sekalipun yang berkhotbah adalah seorang petani atau seorang guru ngaji yang tidak mempunyai gelar akademis apapun kita tetap saja wajib mendengarkan. Ketika khotbah jumat, jamaah dilarang interupsi sekalipun dia benar dan khotib salah. Namun tetap saja jamaah wajib mengingatkan khotib ketika selesai sholat jumat. Jika khotib tidak mau diingatkan ada baiknya khotib diganti demi kemaslahatan umat.


Pelajaran untuk jumat hari ini adalah sepandai apapun seseorang tentu akan tiada nilainya tanpa ketawadhu’an. Dan sebanyak apapun amal perbuatan seseorang tidak akan ada nilainya tanpa keikhlasan.


Mohon maafkan hamba yang banyak dosa ini.


Wallahua’lam bishowab.

Saturday, November 17, 2012

Menjadi Bijaksana

Bijaksana Ilmu, Kuasa, dan Harta


Ketika kuliah saya sering nongkrong di warnet kampus. Bahkan waktu saya lebih banyak berada di warnet ketimbang berada di kelas untuk kuliah. Di warnet tersebut saya kenal dengan penjaganya. Orangnya agak pendiam dan sederhana. Suatu ketika ada seorang Profesor yang juga menjabat  sebagai Dekan di fakultas tersebut bermaksud mengirimkan sebuah email penting ke seseorang. Akan tetapi Profesor tersebut kurang familiar dengan teknologi sehingga meminta sang penjaga warnet untuk mengirimkan email tersebut. Bahkan menggunakan email si penjaga warnet. Karena koneksi internetnya sangat lambat (maklum zaman dulu tidak seperti sekarang) dan kapasitas filenya besar maka email tersebut belum juga terkirim. Tak pelak hal tersebut membuat sang Profesor naik pitam. Sehingga, sang penjaga warnet pun dimarahi oleh Profesor. Dengan sabar penjaga warnet melayani Profesor tersebut hingga emailnya pun dapat terkirim walapun dengan waktu yang tidak sebentar.

Monday, October 22, 2012

Pemimpin = pelayan ?

Kemarin saya mendapatkan kalimat yang cukup bagus dari Pak Mario Teguh dalam acara MTGW yang disiarkan di Metro TV. Kalimatnya seperti ini “If you want to lead, learn to serve!” yang artinya kurang lebih “Jika Anda ingin memimpin maka belajarlah untuk melayani”. Kalimat ini sangatlah menarik ditengah keadaan pemimpin di negeri ini yang maunya hanya dilayani. Bahkan kalau mau lewat jalan-jalan harus dikosongkan dan rakyat harus mengalah.




“If you want to lead, learn to serve!”

Wednesday, October 17, 2012

Imagologi : antara realita dan rekayasa

Jokowi baru saja dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta yang baru. Dia terpilih bukan semata-mata karena kinerja mesin partai, melainkan karena sosoknya yang dikenal sederhana dan merakyat. Dengan tubuh yang terlihat kurus Jokowi dianggap sebagai representasi dari grassroots / rakyat arus bawah. Dan juga track recordnya semasa memimpin Solo. Namun itu saja, tidaklah cukup untuk rakyat Jakarta bisa memilih Jokowi menjadi seorang Gubernur.

Saturday, September 29, 2012

Muhammadku, kami rindu padamu

Beberapa waktu yang lalu umat Islam dikejutkan oleh film yang berjudul innocent of muslim. film ini menimbulkan kemarahan umat Islam diseantero penjuru dunia. bahkan di Libya terjadi chaos yang menewaskan duta besar amerika disana. begitu pula di indonesia, juga terjadi aksi masa, dari berbagai ormas Islam. alhamdulillah di indonesia masih tetap aman dan tidak menimbulkan chaos.

Friday, April 23, 2010

Air Hangat Penyejuk Jiwa

Pada suatu hari sebelum berangkat bekerja seorang suami berpesan kepada istrinya

“Ma, nanti sore pas aku pulang kerja tolong disiapkan air hangat ya.” Sesegera setelah itu suami tersebut mencium kening istrinya dan kemudian berpamitan untuk berangkat bekerja.

Istrinya tersebut hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Walaupun sebenarnya sebelum mempunyai anak dia adalah seorang pegawai negeri di kantor pajak. Namun, semenjak dia melahirkan seorang anak yang kini telah berusia 5 tahun dia memutuskan untuk berhenti bekerja. Alasannya, selain karena dia ingin fokus mengurusi anaknya juga karena dia merasa kurang nyaman dengan godaan yang ada di tempatnya bekerja.